EXTRAORDINARY JOURNALIST

Fast Accurate Balance

Museum Wayang Terus Bertahan Menempuh Perkembangan Zaman

         Oleh Yuni Arisandy

                Keadaan sunyi dan lengang serta bau ruangan bangunan tua yang pengap dapat mengundang perasaan sedih dan prihatin pengunjung pertama yang datang sesaat setelah museum dibuka Sabtu pagi (24/3) pukul sembilan, namun seiring waktu berjalan perasaan takjub dan senang lah yang timbul ketika melihat rombongan pengunjung yang berdatangan ke Museum Wayang.

Serombongan murid SD dengan antusias berlarian memasuki dan memenuhi museum tanpa menunggu guru mereka yang harus menyelesaikan administrasi di loket pembayaran tiket. Tak lama lagi, setelah beberapa pengunjung yang datang secara perorangan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara, rombongan lainnya pun tiba. Kali ini mereka adalah sekelompok karyawan perusahaan yang mengadakan rekreasi bersama dengan memilih museum sebagai tempat rekreasi.

Namun, keadaan ramai pengunjung di museum yang terletak di jalan Pintu Besar Utara No. 27 ini baru terjadi selama tiga tahun terakhir karena Museum Wayang sempat menjadi tempat yang hampir terlupakan.

Pasang surut pengunjung

Sebagai tempat wisata kebudayaan, Museum Wayang mengalami perubahan angka pengunjung yang bila diibaratkan seperti air laut mengalami masa pasang dan surut.

Menurut Diyo, petugas penjual tiket masuk museum, pada masa sepi pengunjung khususnya pada tahun 90an, Museum Wayang sering tidak mendapat pengunjung sama sekali, kecuali akhir pekan. “Saya masih ingat waktu dulu bisa keluar meninggalkan museum untuk main catur karena sepi dan sering tidak ada yang datang” ujarnya sambil termenung mengingat masa lalu.

Keadaan serupa masih berlangsung pada tahun 2000an. Data pengunjung Museum Wayang menunjukkan hingga tahun 2004 jumlah pengunjung tidak lebih dari 20 ribu orang per tahun. Namun, perubahan mulai terjadi sejak wayang Indonesia diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dengan pemberian piagam pada 21 April 2004 di Paris.

“Habis gelap terbitlah terang”; mungkin ungkapan ini cocok untuk menggambarkan keadaan museum yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, H. Ali Sadikin, pada 13 Agustus 1975 ini.

Museum Wayang dikunjungi makin banyak wisatawan. Pada 2007 tercatat sebanyak 28.806 orang berkunjung ke museum, termasuk 3.779 wisatawan mancanegara. Tahun 2008, angka kunjungan meningkat menjadi 43.471 yang melonjak menjadi 80.526 orang pada tahun 2009.

Peningkatan kunjungan ke Museum Wayang mencapai puncaknya pada 2010 dengan jumlah pengunjung menjadi 209.387, dan pada 2011 turun menjadi 201.064, tetapi wisatawan mancanegara meningkat 25 persen.

Peningkatan angka kunjungan ini menggembirakan tim pekerja Museum Wayang, tak terkecuali Didi Cahyono, seorang pemandu wisatawan lokal. Pria ini mengaku senang bahwa museum tempat dia bekerja telah melalui masa-masa ’suram’. Tentu saja perubahan yang baik ini tidak dapat terwujud tanpa kerja keras tim Museum Wayang dan peranan Pemda DKI Jakarta.

Cara kreatif untuk bertahan

Untuk mencapai peningkatan angka pengunjung yang signifikan tersebut, pihak museum wayang menempuh berbagai cara kreatif untuk terus bertahan sebagai tempat wisata yang melestarikan budaya Indonesia di tengah persaingan dengan tempat-tempat wisata modern.

Salah satu cara yang dilakukan untuk menarik perhatian wisatawan, yaitu melalui kerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) untuk mengadakan pergelaran wayang. Secara berkala Museum Wayang menampilkan pertunjukan wayang yang beragam dan berasal dari daerah yang berbeda , seperti pertunjukan wayang golek Sunda, wayang kulit Jawa, wayang orang Betawi, dan pertunjukan wayang lainnya. Pengunjung dapat menikmatinya pada jam 10.00 – 14.00 WIB.

Didi, sang pemandu museum menjelaskan bahwa Museum Wayang mempunyai agenda tahunan yang disesuaikan dengan hari-hari besar di Indonesia. “Dari agenda ini kami membuat perencanaan untuk pergelaran wayang setiap bulannya, seperti menentukan tema dan mencari kru wayang yang cocok” ujar dia.

Tidak puas dengan pagelaran wayang, tim Museum Wayang berinisiatif menyuguhkan animasi wayang layar lebar gratis. Mulai Februari 2012 diadakan pertunjukan animasi tiga dimensi (3D) layar lebar dengan cerita Karno Tanding dan Arjuna Wiwaha. Ruang 3D yang dirancang secara sederhana berkapasitas 24 tempat duduk, maka pengunjung harus berombongan minimal 20 orang untuk dapat menonton.

Petugas operator komputer Museum Wayang, Nugroho, menjelaskan hal itu pada Sabtu (24/3). “Kita menyusun jadwalnya yaitu hari Selasa, Rabu, dan Kamis karena biasanya untuk rombongan anak sekolah dan anak kuliah” katanya.

Menurut Nugroho, melalui kerjasama tim yang baik, Museum Wayang bertujuan menjadi wadah bagi dunia pewayangan, baik sebagai sarana penyimpanan, perawatan, pameran, penelitian, dan rekreasi. “Jadi untuk semua keperluan yang berhubungan dengan wayang, orang-orang bisa datang kesini”, tandasnya.

Bagaimana tidak, di Museum Wayang, wisatawan dapat mengenal bermacam karakter, sikap maupun perilaku lakon dari berbagai daerah melalui tampilan wayang yang bernilai tinggi dalam budaya Indonesia dengan menyaksikan sejumlah koleksi wayang.

Jumlah koleksi museum ini mencapai 6.000 buah, yang terdiri dari beberapa perangkat wayang kulit, wayang golek, berbagai topeng, wayang kaca, wayang seng, lukisan dan boneka-boneka dari luar negeri. Beberapa koleksi langka dari nusantara antara lain wayang Intan, wayang Suket, wayang Beber dan wayang Revolusi. Di dalamnya juga ada boneka terkenal, seperti si Unyil dan teman-temannya, yang sempat ditayangkan di TVRI tahun 80an.

Tidak berhenti disitu saja, tim Museum Wayang terus berusaha melengkapi koleksinya dengan mengadakan penelitian langsung ke daerah asal wayang tiap tahun. Selain itu, pembuatan animasi wayang dengan kisah-kisah lainnya terus dibuat.

Menarik berbagai kalangan

Usaha untuk terus melengkapi koleksi dan langkah kreatif yang ditempuh pihak Museum Wayang tidak berakhir sia-sia. Data pengunjung Museum Wayang selama beberapa tahun terakhir membuktikan upaya mereka berhasil menarik perhatian pengunjung dari berbagai kalangan.

Pergelaran wayang yang dilakukan secara berkala mampu menarik wisatawan dewasa dan wisatawan mancanegara. “Awalnya, pergelaran wayang hanya dilakukan tiga kali seminggu, tapi karena respon pengunjung yang positif maka pergelaran di Museum Wayang menjadi setiap minggu.”kata ‘Mas Nug’ alias Nugroho dengan bangga.

Wisatawan asal California Amerika, Jeremy mengatakan bahwa dia dan istrinya, Kelly sedang berkunjung ke Indonesia dan tertarik untuk melihat Museum Wayang karena bangunannya yang unik. Dia juga berkata akan kembali lagi esok hari (Minggu, 25/3) untuk menonton pergelaran wayang orang Betawi. Mereka juga senang karena dapat dengan mudah membeli cinderamata di toko yang tersedia di lantai bawah dekat pintu keluar.

Namun, pergelaran belum berhasil menarik minat anak-anak dan remaja terhadap wayang. Menurut mas Nug, pergelaran lebih diminati pengunjung dewasa khususnya pecinta wayang dan pengunjung asing. “Kalau anak-anak belum mengerti tapi kalau remaja cuma ingin tahu sebentar tapi tidak mengikuti acara hingga selesai” ujarnya.

Tidak kehabisan akal, tim Museum Wayang mencuri perhatian mereka melalui film animasi wayang tiga dimensi, dan ternyata cara ini berhasil. Hal ini terbukti dari jumlah reservasi kunjungan dari kelompok anak sekolah dan kuliah yang terus meningkat.

Mas Nug menunjukkan papan jadwal kunjungan rombongan yang ada di kantornya dengan antusias. Di papan itu terpampang daftar pemesanan “guide” untuk kunjungan rombongan hingga April 2012, diantaranya dari kelompok mahasiswa universitas Bina Nusantara (BINUS), SD Keagungan, Bangun Pemuda Bekasi, dan lainnya.

Museum Wayang sebagai tempat wisata budaya dapat terus bertahan dan memikat wisatawan dengan perpaduan perangkat masa lampau dan masa sekarang. Bangunan tua dan koleksi museum  yang unik menyiratkan sejarah yang dapat menarik perhatian para pecinta sejarah dan budaya Indonesia, seperti seorang pengunjung bernama Anto.

Anto (27) adalah warga Ciputat yang mempunyai hobi mengunjungi museum dan tempat-tempat bersejarah. Dia mengaku senang dapat mendatangi Museum Wayang. “Saya kan orang Jawa, saya  kepingin tahu cerita wayang lebih banyak lagi” ujarnya.

Di sisi lain, film animasi wayang yang disajikan di ruang pemutaran 3D dapat mengajak anak-anak dan remaja untuk mulai mencintai wayang yang benilai budaya tinggi.

Peranan Pemda DKI

Kesuksesan Museum Wayang untuk bertahan menghadapi perkembangan zaman tak lepas dari peranan Pemerintah Daerah DKI Jakarta yang memberi anggaran tiap tahun untuk mendukung setiap kegiatan museum dan perawatannya.

Selain itu, Pemda DKI membenahi wilayah Kota Tua hingga menjadi tempat wisata budaya lokal yang berdampak baik bagi museum-museum di wilayah ini. Pada Tahun Kunjungan Museum 2010, beberapa museum diluapi pengunjung, termasuk Museum Wayang. Akibatnya, retribusi yang dihasilkan Museum Wayang mencapai Rp 250 juta dan melapaui target Rp 40 juta.

Bagaimanapun juga, penyediaan berbagai fasilitas, dedikasi para pekerja museum, dan peranan Pemda DKI Jakarta tidak akan “berbuah manis” bagi pelestarian budaya pewayangan Indonesia tanpa partisipasi masyarakat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan melestarikan budaya asli bangsanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 26, 2012 by in Art.

Nature of News

March 2012
M T W T F S S
    Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: